“Daftar Hitam” Tayangan Anak-anak
July 15th, 2008- Posted by admin
- Filed under Media, Opini Publik
- 20 Comments »
- “Daftar Hitam” Tayangan Anak-anak
Setelah beberapa waktu yang lalu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) merilis tayangan-tayangan yang mendapatkan teguran karena adanya muatan kekerasan, mistis, dan pornografi pada tayangan tersebut, salah satunya acara Extravaganza, kini dirilis pula program televisi untuk anak yang masuk dalam kategori “bahaya”, “hati-hati”, dan “aman” yang merupakan hasil penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA). Tayangan-tayangan ini sebenarnya ditujukan untuk anak-anak, namun menurut sejumlah penelitian, tayangan-tersebut justru tidak layak ditonton mengingat begitu kentalnya muatan kekerasan, mistik, seks, dan bahasa kasar. Kondisi ini menjadi semakin tidak kondusif buat anak-anak karena begitu banyaknya tayangan-tayangan dewasa (sangat tidak pantas ditonton anak-anak) yang diputar di saat banyak anak menonton televisi. Di sinilah peran orang tua sangat penting dalam memilah mana tayangan yang cocok untuk anak-anaknya, serta juga membatasi jam menonton mereka.
Berikut ini adalah daftar tayangan-tayangan untuk anak-anak yang masuk dalam kategori “bahaya”, “hati-hati”, dan “aman” menurut hasil penelitian YPMA;
Dari Surabaya untuk Indonesia
“.. menurut saya, mencalonkan diri menjadi pemimpin hukumnya haram, namun ketika ia diminta oleh rakyat untuk menjadi pemimpin haram hukumnya menolak permintaan tersebut ..” (Emha Ainun Nadjib)
Dr. Parto dari Unair bukan tanpa alasan ketika menyampaikan uneg-unegnya agar Cak Nun dicalonkan sebagai calon presiden alternatif. Bukan untuk menambah varian latar belakang presiden yang pernah ada, sejauh ini presiden Indonesia berasal dari kalangan insinyur, militer, teknokrat, kyai, ibu rumah tangga, dan militer lagi. Bukan pula sebagai ajang coba-coba, coba sih apa yang terjadi jika negeri ini dipimpin oleh sosok dari luar kalangan yang sudah ada sebelumnya. Namun lebih pada melihat kenyataan yang ada di hadapan masyarakat luas. Kenyataan bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang mencemaskan, kenyataan bahwa Indonesia butuh pemimpin yang mengerti apa kehendak rakyatnya, kenyataan bahwa sosok pemimpin itu ada pada diri Cak Nun, orang Jombang yang sering disebut sebagai Kyai mBeling. Klik untuk lanjutannya »
Haul
Beberapa waktu yang lalu, malam hari, Mahatari meneleponku. Ada kesan mendadak dia menghubungiku, kalau tidak salah waktu itu sudah lewat pukul 10 malam. Tidak biasanya. Bukan hanya kesan mendadak, tapi juga serasa ada keinginan lebih dari sekedar mencari teman bicara. Gaya bicaranya juga sedikit gugup.
“Mas, aku kangen…”, itulah kalimat pertama yang aku dengar dari dia setelah ucapan salam. Sejenak perasaanku melambung, ada secercah harapan rupanya, ah baru sekali ini Mahatari mengungkapkan kerinduannya, padaku kah? Klik untuk lanjutannya »
Salah Kereta dan Makam Bung Karno
Apa jadinya jika kereta yang kita naiki ternyata tidak sesuai dengan tiket yang telah kita beli, dan yang pasti juga tujuan kereta tersebut melenceng jauh dari tujuan kita yang sebenarnya? Bisa jadi ada 2 kemungkinan yang kita ambil ketika menghadapi keadaan seperti itu. Kemungkinan pertama kita akan menjadi super panik, bingung, karena akan ada banyak kerugian yang kita terima, kerugian waktu, kerugian uang, kerugian bisnis, atau bahkan kerugian yang sifatnya mendekati “hidup-mati”. Dalam keadaan tersebut tentunya kita berharap kereta akan berhenti sehingga kita bisa mengurangi hal-hal yang jauh lebih buruk. Kemungkinan yang kedua justru kita diam saja membiarkan kereta melaju tanpa ada kekhawatiran sedikitpun, malah menertawakan ketololan tersebut, dan menganggapnya sebagai “ah, hidup ini kan cuma canda gurau”.
Perjumpaan Agung:Cak Nun, Pak Karta, Pak Ebiet
Sebenarnya cerita ini ingin saya tulis seminggu yang lalu, namun karena ada satu dua hal cerita ini agak terlambat saya kabarkan. Jadi kalau dibilang cerita ini basi ya ndak apa-apa lah, toh nyatanya tanggal kejadiannya memang sudah lewat seminggu lebih. Cerita ini tentang perjumpaan 3 orang sahabat yang kira-kira 30 tahun tidak pernah bertemu, terakhir ketemu sekitar tahun 1978. Ketiganya merupakan seniman-seniman Malioboro Yogyakarta. Sebenarnya ada 4 orang yang di tahun 70-an selalu bersama ini, namun satu orang tidak hadir karena sebenarnya pertemuan ini tidak pernah diagendakan. Ketiga sosok ini adalah Cak Nun, Pak Karta, dan Pak Ebiet G Ade (rasanya tak pantas saya menyebut nama saja tanpa awalan “Pak”).






